Menyusuri Kearifan Mata Air

Abi's posts with tag: ahlul bayt

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryMengenang Kesyahidan Imam Husein ra (Asy-Syura) Mar 10, '07 1:30 PM
for everyone

Mengenang Kesyahidan Imam Husein ra (Asy-Syura)

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki." (QS. Ali Imran: 169).

Lebih dari 1300 tahun yang lalu, Imam Husain ra, penghulu pada syuhada, pemimpin pemuda sorga, cucu kecintaan Rasulullah SAW, salah seorang Ahlul Bait Nabi, membuktikan kecintaannya kepada Allah, Rasul dan agama-Nya, bukan hanya dengan harta dan tenaga, namun dengan jiwa dan handai-taulan untuk menegakkan agama dan kebenaran.

Ceritanya bisa panjang, namun kita bisa membaca sepintas tulisan
Haedar Nashir (salah seorang tokoh Muhamadiyah di Republika.
http://www.republik a.co.id/koran_ detail.asp? id=214675&kat_id=49

Kita dapat belajar pada kegetiran sejarah di Karbala, sebuah daerah di Irak bagian Tengah yang berjarak sekitar 90 km dari Baghdad atau 40 km dari Kufah. Bagaimana Husain putra Ali bin Abi Thalib harus mengakhiri hidupnya secara tragis dan menyedihkan sebelum sampai ke Kufah yang menjadi tujuannya. Perselisihan politik yang keras dengan baju agama yang dikobarkan rezim khalifah Yazid Mu'awiyah telah menelan korban cucu terkasih Nabi itu bersama sanak keluarga dan pengikut setianya secara memilukan.

Dalam catatan sejarah yang muktabar, Ubaidillah sang Gubernur Iraq wakil Dinasti Umayyah di negeri Seribu Satu Malam itu harus mengarak penggalan kepala Husain dan korban lainnya di kota Basrah dan Kufah untuk kemudian dibawa ke Damaskus untuk diserahkan ke Yazid sebagai bukti. Sebuah tragedi getir yang dilakukan Muslim terhadap Muslim lainnya secara tak kenal perikemanusiaan.

Tragedi Karbala bukanlah milik Syiah maupun Sunny. Siapa pun Muslim yang cinta damai dan kebenaran, pasti merasa getir membuka sejarah yang kelam itu. Di depan makam cucu Nabi yang terkenal itu, di dalam Masjid Husain di Karbala, penulis sempat terpana. Di tengah ratapan para pengikut Syiah yang mengelilingi dinding makam, terbersit pertanyaan gugatan. Apa yang ada di benak Yazid Mu'awwiyah (Khalifah Bani Umayyah), Syamir bin Zil-Jausyan (panglima Basra yang dikenal bengis), Umar bin Saad bin Abi Waqas (panglima perang yang peragu), dan Ubaidillah bn Ziyad (Gubernur Irak wakil Yazid yang cinta kuasa) ketika membantai Husain dan rombongannya yang hanya berjumlah sekitar seratus orang? Di mana ruh Islam mereka ketika melakukan pembantaian yang oleh ahli sejarah disebut sebagai puncak dari kekerasan dan kekejian dalam konflik politik umat Islam Wallahu 'alam.

Haedar nashir menggunakan kisah ini untuk mengajak kaum muslim, untuk tidak suka bertengkar. Dilarang bertengkar, singkatnya.

Saya ingin sekedar menambahkan:

1. Peristiwa ini adalah meneguhkan keabadian kisah pertempuran antara kebenaran dan kejahatan, melanjutkan kisah Habil-Qabil, Musa as-Firaun, Ibrahim as-Namrud, Muhamad SAW-Abu Jahal, atau Cut Nyak Din-Kompeni. Dan ini berlanjut hingga kini. Senang atau tidak, Bush, Israel dan sekutunya, melanjutkan tradisi ini untuk menyebarkan kebencian, kejahatan kepada kaum Muslimin. Dan selalu ada yang mengikuti jalan Imam Husein, seperti Hamas, Hizbullah. Tetapi hebatnya, kejahatan memiliki kemampuan untuk mengemasnya menjadi kebaikan itu sendiri, serta melabeli orang yang melawannya sebagai "Axis of evil", "musuh kemanusiaan" , "Ekstremis", dan lain-lain.

2. Ada kalanya kebenaran secara fisik kalah, seperti Habil-Qabil, terbunuhnya Nabi Zakaria AS, dan Imam Husein. Namun, pada dasarnya mereka telah menang secara Substansi, karena dengan berpegang kepada kebenaran, meski Syahid, namanya mewangi di dunia (dan Akhirat) sepanjang zaman. Habil, Imam Husain adalah salah satu simbol kebenaran sepanjang masa. Sementara Qabil dan Yazid dikenang dengan keburukannya.

3. Sering berpegang kepada kebenaran itu berat, sulit, penuh pengorbanan seperti firman Allah:
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. 3:142)
Memilih jalan kebenaran, pada saat yang sama adalah memilih jalan kesabaran dan siap menghadapi kesulitan.

4. Dari sejarah selalu ada dari kelompok kebenaran, yang tidak kuat menahan derita. Seperti dalam barisan Imam Husein yang tadinya ratusan akhirnya tinggal 72 orang, termasuk wanita dan anak-anak. Dalam sejarah perlawanan terhadap Belanda dalam sejarah kita, banyak sekali orang Indonesia sendiri yang berbalik membela belanda. Namun ada juga yang sebaliknya.

Kita bisa menambahkan yang lain.

Allahumma Shali Ala Muhammad wa Aali Muhammad.

Warsono, Dundee

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help