Mengenang Kesyahidan Imam Husein ra (Asy-Syura)
Janganlah
kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati,
bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki." (QS.
Ali Imran: 169).
Lebih dari 1300 tahun yang lalu, Imam Husain
ra, penghulu pada syuhada, pemimpin pemuda sorga, cucu kecintaan
Rasulullah SAW, salah seorang Ahlul Bait Nabi, membuktikan kecintaannya
kepada Allah, Rasul dan agama-Nya, bukan hanya dengan harta dan tenaga,
namun dengan jiwa dan handai-taulan untuk menegakkan agama dan
kebenaran.
Ceritanya bisa panjang, namun kita bisa membaca sepintas tulisan
Haedar Nashir (salah seorang tokoh Muhamadiyah di Republika. http://www.republik a.co.id/koran_ detail.asp? id=214675&kat_id=49
Kita
dapat belajar pada kegetiran sejarah di Karbala, sebuah daerah di Irak
bagian Tengah yang berjarak sekitar 90 km dari Baghdad atau 40 km dari
Kufah. Bagaimana Husain putra Ali bin Abi Thalib harus mengakhiri
hidupnya secara tragis dan menyedihkan sebelum sampai ke Kufah yang
menjadi tujuannya. Perselisihan politik yang keras dengan baju agama
yang dikobarkan rezim khalifah Yazid Mu'awiyah telah menelan korban
cucu terkasih Nabi itu bersama sanak keluarga dan pengikut setianya
secara memilukan.
Dalam catatan sejarah yang muktabar,
Ubaidillah sang Gubernur Iraq wakil Dinasti Umayyah di negeri Seribu
Satu Malam itu harus mengarak penggalan kepala Husain dan korban
lainnya di kota Basrah dan Kufah untuk kemudian dibawa ke Damaskus
untuk diserahkan ke Yazid sebagai bukti. Sebuah tragedi getir yang
dilakukan Muslim terhadap Muslim lainnya secara tak kenal
perikemanusiaan.
Tragedi
Karbala bukanlah milik Syiah maupun Sunny. Siapa pun Muslim yang cinta
damai dan kebenaran, pasti merasa getir membuka sejarah yang kelam itu.
Di depan makam cucu Nabi yang terkenal itu, di dalam Masjid Husain di
Karbala, penulis sempat terpana. Di tengah ratapan para pengikut Syiah
yang mengelilingi dinding makam, terbersit pertanyaan gugatan. Apa yang
ada di benak Yazid Mu'awwiyah (Khalifah Bani Umayyah), Syamir bin
Zil-Jausyan (panglima Basra yang dikenal bengis), Umar bin Saad bin Abi
Waqas (panglima perang yang peragu), dan Ubaidillah bn Ziyad (Gubernur
Irak wakil Yazid yang cinta kuasa) ketika membantai Husain dan
rombongannya yang hanya berjumlah sekitar seratus orang? Di mana ruh
Islam mereka ketika melakukan pembantaian yang oleh ahli sejarah
disebut sebagai puncak dari kekerasan dan kekejian dalam konflik
politik umat Islam Wallahu 'alam.
Haedar nashir menggunakan kisah ini untuk mengajak
kaum muslim, untuk tidak suka bertengkar. Dilarang bertengkar, singkatnya.
Saya ingin sekedar menambahkan:
1.
Peristiwa ini adalah meneguhkan keabadian kisah pertempuran antara
kebenaran dan kejahatan, melanjutkan kisah Habil-Qabil, Musa as-Firaun,
Ibrahim as-Namrud, Muhamad SAW-Abu Jahal, atau Cut Nyak Din-Kompeni.
Dan ini berlanjut hingga kini. Senang atau tidak, Bush, Israel dan
sekutunya, melanjutkan tradisi ini untuk menyebarkan kebencian,
kejahatan kepada kaum Muslimin. Dan selalu ada yang mengikuti jalan
Imam Husein, seperti Hamas, Hizbullah. Tetapi hebatnya, kejahatan
memiliki kemampuan untuk mengemasnya menjadi kebaikan itu sendiri,
serta melabeli orang yang melawannya sebagai "Axis of evil", "musuh
kemanusiaan" , "Ekstremis", dan lain-lain.
2. Ada kalanya
kebenaran secara fisik kalah, seperti Habil-Qabil, terbunuhnya Nabi
Zakaria AS, dan Imam Husein. Namun, pada dasarnya mereka telah menang
secara Substansi, karena dengan berpegang kepada kebenaran, meski
Syahid, namanya mewangi di dunia (dan Akhirat) sepanjang zaman. Habil,
Imam Husain adalah salah satu simbol kebenaran sepanjang masa.
Sementara Qabil dan Yazid dikenang dengan keburukannya.
3. Sering berpegang kepada kebenaran itu berat, sulit, penuh pengorbanan seperti firman Allah:
Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi
Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata
orang-orang yang sabar. (QS. 3:142)
Memilih jalan kebenaran, pada saat yang sama adalah memilih jalan kesabaran dan siap menghadapi kesulitan.
4.
Dari sejarah selalu ada dari kelompok kebenaran, yang tidak kuat
menahan derita. Seperti dalam barisan Imam Husein yang tadinya ratusan
akhirnya tinggal 72 orang, termasuk wanita dan anak-anak. Dalam sejarah
perlawanan terhadap Belanda dalam sejarah kita, banyak sekali orang
Indonesia sendiri yang berbalik membela belanda. Namun ada juga yang
sebaliknya.
Kita bisa
menambahkan yang lain.
Allahumma Shali Ala Muhammad wa Aali Muhammad.
Warsono, Dundee