Menyusuri Kearifan Mata Air

Abi's posts with tag: cinta

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Buku Bang Imad (begitu Dr. Imadudin Abdurrahman, ahli teknik elektro ITB ini lebih terkenal disapa) yang kecil, "Kuliah Tauhid", menjadi salah satu buku favorit dan salah satu yang paling menggugah kesadaran saya berupa kecintaan kepada Allah SWT. Saya tidak tahu apakah buku itu masih terbit sekarang, namun dulu adalah salah satu buku favorit aktivis Islam. Salah satu kekuatan tulisan, yang diambil dari ceramah-cermah Beliau di Masjid ITB Salman adalah semangat yang kuat, bahasa yang sederhana dan logis, serta cinta kepada Allah yang menyala-nyala.

Di buku beliau saya dikenalkan bahwa Iman adalah nikmat terbesar dalam hidup, lebih besar dari nikmat hidup dan kebebasan. Kata beliau, hidup sendiri adalah suatu nikmat besar dari Allah SWT. Namun hidup tanpa kebebasan tidaklah bermakna, karenanya kebebasan adalah lebih berharga dari hidup. Walah demikian, kebebasan tanpa mengenal keimanan pun belum menjadikan seorang benar-benar bebas. Karena iman adalah yang mampu membebaskan manusia dari segala belenggu (tirani, thagut). Berbeda dengan kebebasan semata, yang pada hakekatnya adalah menghambakan diri kepada diri sendiri, keimanan bahkan membebaskan kita kepada siapa pun kecuali kepada Allah SWT, Zat memang paling layak untuk menggantungkan segala-galanya, bukan kepada diri sendiri. Iman, pada hakekatnya, dengan demikian adalah membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk (termasuk diri sendiri), kepada Sang Khalik semata...

Pengertian inilah yang kemudian melahirkan makna Tuhan, yang sama sekali baru, namun sekaligus kuat dan menggetarkan. Bagi Bang Imad, yang berbeda dari pemahaman saya sebelumnya bahwa Tuhan hanya dipahami sebagai Zat Pencipta Alam, Tuhan bermakna lebih berupa sikap hidup, yaitu "sesuatu yang mendominasi hidup kita sehingga, sesuatu itu sangat kita takuti dan cintai". Bang Imad, telah memberi perspektif makna Tuhan dari sesuatu yang "jauh" dan "teoritis" menjadi sesuatu yang dekat dan akrab dengan kehidupan kita.

Bang Imad mengajarkan, Tauhid sekarang bukan lagi sekedar pembebasan dari patung-patung yang kelihatan itu lagi, sebagaimana ayat yang sentral dalam buku beliau:
"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya" (QS Al-Furqan 43)

Namun patung-patung itu kini berubah menjadi sikap hidup memuja sesuatu. Inilah lawan Tauhid kita sekarang. Di antara belenggu tauhid yang paling kuat itu dikenal sebagai 3 Ta (Tahta, Harta dan Wanita/Pria). Itulah Materialisme, Hedonisme, dan Jabatan-isme. Saya teringat hadis Nabi SAW yang terkenal yang kira2, bahwa  bukan syirik (dalam arti menyembah patung-patung) yang paling aku kawatirkan dari umatku, namun riya' (egosentrisme) dan wahn yaitu hubud dunya atau cinta  dunia, dalam riwayat lain....

Kini setelah sekian tahun Beliau mengajarkan semangat Tauhid yang baru dari podium ke podium, dan menginspirasi banyak orang. Namun 3 lawan tauhid malah makin tetap relevan menjadi musuh umat Islam.... hingga saya mendengar Guru saya mengenai Cinta kepada Tuhan itu menghadap Kekasihnya (Semoga Allah menempatkan beliau di tempat mulia di sisi-Nya. Amieen).

Dundee, 2008

ReviewReviewReviewReviewReviewThe Light of MuhammadMay 23, '08 5:05 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Hajjah Amina Adil
Buku setebal 150an halaman ini sebenarnya saya beli untuk anak2 saya. Agar anak saya lebih mengenal dan mencintai Nabinya, ditengah sikap agnostik masyarakat Barat. Namun setelah saya membaca buku ini sungguh lain 'angle'-nya. Buku ini memuat kisah spiritual dan keistimewaan Nabi Muhammad SAW dalam porsi sangat besar. Banyak hal-hal baru dan menggetarkan kalbu yang saya dapatkan dari buku kecil ini, yang membuat saya semakin mengagumi dan mencintai Nabi SAW, sekaligus keagungan dan kasih sayang Allah SWT kepada Nabi tercinta dan umatnya... Entah mengapa beberapa kali saya meneteskan air mata membaca buku ini.

Membaca buku ini meyebabkan saya memutuskan untuk membeli buku karya hajjah Amina Adil untuk versi orang tua, meski versi anak2 pun sudah sangat baik.


Blog EntryDulu, Dulu Sekali, Saya Pernah MengalaminyaMay 10, '08 5:55 PM
for everyone
Oleh Septina Ferniati, ibu dua anak, tinggal di Bandung. 
http://suluk.blogsome.com/2008/03/05/dulu-dulu-sekali-saya-pernah-mengalaminya/

dead of hunger

DENGAN si sulung Ilalang saya baru saja habiskan waktu berdua. Setelah dia tuntaskan PR-nya, dan saya sudah sangat capek menekuni terjemahan, kami berinisiatif cari makan. Bukan karena kami kebanyakan uang. Namun karena di rumah saya tidak masak banyak. Tahu tumis bawang jahe sudah habis sejak sarapan, siang pun diisi dengan acara makan spageti pemberian seorang teman istimewa. Jadi sore ke malam memang tidak ada apa-apa. Maka harus ke luar.

Meski gerimis, kami semangat. Saya susui dulu si bungsu yang baru enam belas bulan usianya, sampai tertidur. Ayahnya di rumah, tidur bareng dia. Lalu kami ke luar, agak jauh dari rumah, karena saya dan Ilalang ingin ke Surabi Imut.

Kami memesan tiga porsi surabi, tempe bacem bakar lima. Sebelumnya kami mampir beli yoghurt kesukaan kami berdua. Kami bawa makanan ke rumah dan makan dengan lahap. Semua habis, sampai kemudian berita Daeng Basse yang mati kelaparan bersama bayinya sampai ke telinga.

Semangat saya langsung turun. Saya ingat rasanya kelaparan. Saat itu terjadi, tubuh terasa lumpuh, tak mampu bergerak. Semua terasa ngilu dan kelu. Jemari bergeletar, mata berkunang-kunang. Rasanya tubuh bisa melayang tanpa beban. Semua suara yang sampai ke telinga kita terdengar amat intens, bahkan desir angin terhalus sekalipun takkan luput dari pendengaran. Ada rasa sakit yang dahsyat di rongga perut, diimbangi kemampuan melihat dan mendengar melampaui batas. Ada kenikmatan tak terperi di tengah nyeri tak terkira. Begitulah saya mendefinisikan kelaparan.

Dulu, dulu sekali, saat masih kuliah, saya pernah mengalaminya. Tubuh sudah sulit digerakkan. Doa sudah dipanjatkan, saya bersiap. Rasanya sudah mau mati saja. Perut saya sudah dekok. Rasanya melilit, sakit sekali. Saya berdoa dan berdoa. Tak lama sayup-sayup terdengar suara orang. Saya kira suara malaikat. Ternyata memang ada yang datang. Saya tak sanggup membuka pintu. Bahkan lupa pintu dikunci atau tidak. Orang yang datang lalu membopong saya. Semua terasa melayang. Saya tetap berdoa. Dengan bibir pecah teramat parah (hingga berdarah), saya mencoba tanya siapa penolong saya. Ketika membuka mata saya sadar sedang ada di dipan pemeriksaan dokter. Cairan di tubuh saya diambil. Dokter dan penolong saya berbicara dengan suara rendah.

Saya menderita kekurangan gizi akut, atau gizi buruk. Tubuh saya hanya 36-37 kg, paling banter 38. Saya kurus sekali, seperti sudah tua, padahal usia masih awal 20-an. Pak Mammukat, nama penolong saya itu menyuapi saya bubur encer, agar bisa pulih dulu. Beliau membekali banyak bahan makanan, juga uang, sampai saya kuat dan bisa kembali kuliah. Dari hasil lab, saya terkena sejenis virus cukup berbahaya yang membuat haid saya terhambat hampir dua tahun lamanya. Semua bermula dari gizi yang buruk. (Saking seringnya menghemat, sampai-sampai makan mie instan seminggu empat kali).

Sebenarnya saya tinggal dengan saudara yang berkecukupan. Tetapi waktu kejadian lapar itu, mereka sedang berjuang hidup di negeri orang dalam waktu lama. Uang saku lama-lama habis juga. Saya sering malu jika butuh uang lagi, karena sudah merasa sangat merepotkan. Sudah disekolahkan, masih minta-minta pula.

Untunglah kini saya hidup cukup baik. Setidaknya tawaran kerja masih mengalir. Itu membuat saya merasa cukup. Pernah sih, kami benar-benar habis uang. Anehnya ASI saya tetap bagus dan lancar, padahal hanya makan nasi garam dari pagi sampai sore. Yang tersulit adalah menjaga keyakinan atau optimisme, bahwa rejeki bakal selalu ada. Menjelang maghrib, pintu diketuk tetangga yang rumahnya agak jauh, yang baru saja selamatan nujuh bulanan. Dia bilang, “Ke orang lain saya hanya bawa satu besek, entah kenapa ke Lalang kok bawa dua.” Kami tertawa. Saya merasa doa saya dikabulkan. Mungkin naif, tapi Tuhan memang Maha Mendengar. Ora sare, kata orang Jawa. Besoknya suami memutuskan melelang kaset-kasetnya. Setelah itu kami bisa hidup agak lapang.

Berat sekali mendengar dan menyaksikan berita mengguncangkan ini. Urusan Daeng Basse di dunia sudah selesai, memang. Namun selamanya beberapa di antara kita akan terus dihantui perasaan malu karena berdalih dia mati akibat dehidrasi. Saya seorang ibu, seorang manusia. Meski kemanusiaan saya masih sering karut marut oleh banyaknya kesalahan yang saya lakukan, rasanya ini keterlaluan sekali.

Melihat sekilas gambar Daeng Basse yang mayatnya ditutupi kain, saya menangis. Rasanya campur aduk. Perut saya baru saja terisi yoghurt, surabi dan tempe bacem sambel, sedangkan di sudut sana, seorang perempuan sedang hamil dan bayinya harus meregang nyawa setelah kalah melawan lapar. Si sulung tanya, “Bu, kalau matinya kelaparan gitu, apa bisa masuk surga?” Saya tersengal, tersendat menyahut, “Ya, bisa.” Kami sama-sama diam. Lalu tanyanya lagi, “Kita juga pernah kan bu kelaparan? Untung ya bu, kita diselamatin Allah.” Dia tersenyum, wajahnya terlihat sedikit lega. Saya matikan TV. Hati saya menjerit lagi, entah kenapa. Barangkali karena saya merasa, Daeng Basse tanpa sengaja luput dari penyelamatan oleh….

Entahlah, wallahu’alam bisshawab. Tuhan pasti tahu. Gusti Allah ora sare, nak.
[]

* Sketsa oleh Herry Mardian.


Blog EntryIbnu Taimiyyah tentang MaulidApr 1, '08 5:33 PM
for everyone
Terakhir tentang Maulid.... dari (http://bahrusshofa.blogspot.com/search/label/Mawlid)

Pandangan Ibnu Taimiyyah ini dapat kita lihat dalam karya-karyanya seperti himpunan fatwanya pada juz ke-23, halaman 134, yang menyatakan, antara lain:-
فتعظيم المولد و اتخاذه موسما قد يفعله بعض الناس و يكون لهم فيه
أجر عظيم لحسن قصدهم و تعظيمهم لرسول الله صلى الله عليه و سلم

Maka membesarkan Mawlid Nabi dan menjadikannya sebagai waktu atau musim yang dirayakan telah dilakukan oleh sebagian manusia dan bagi mereka padanya (yakni pada menyambut mawlid tersebut) ganjaran pahala yang besar kerana baiknya niat mereka dan karena mereka membesarkan Junjungan Nabi s.aw.

Hadits: If not for you O Muhammad! I would not have created creation

dari: sunnah.org (dengan sedikit koreksi)


Question: What do the respected ‘Ulama of the religion and Shari’ah say about the hadith:

لولاك لولاك ما خلقت الأفلاك - “Law laaka law laaka maa khalaqtal aflaak”. Which book is this hadith in? Is the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) the reason for creation or not? Are there other ahadith that support this narration?

Answer: Indeed the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) is the reason for the creation of Adam ‘alaihis salam and the universe. If the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) was not in existence, then the ‘Arsh and Kursi, Lawh and Qalam, the Skies and the Earth, Heaven and Hell, the trees and stones and all other creatures would not exist.

And while the lafdh in question is not considered an authentic wording from the Prophet (sallallahu 'alaihi wasallam), it is, as Mullah al-Qaari said, "Though al-Saghanee says this is mawdu even so I say its meaning is saheeh (authentic) even if it is not a hadith.”

Please read about Ibn Taymiyyah and his discussion of the hadith law laaka in Majma` Fataawa Ibn Taymiyyah.

There are many ahadith to this effect.

Hadith 1: al-Hakim in his Mustadrak, Baihaqi in Dalail an-Nubuwah, Tabarani in his Kabeer, Abu Na’eem in his  Hilya and ibn Asakir in Tarikh Damishq report from Sayyiduna Ameer al-Mu’mineen 'Umar ibn al-Khattab Farooq al-A’dham (radiyallahu ta'ala anhu) that:

The Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) said: “Allah said: When Adam made the mistake, he asked: O Allah! I ask you for the sake of Muhammad to forgive me. Allah said: O Adam! How do you recognise Muhammad when I have not yet created him? Adam said: O Allah! When you created me and blew into me the spirit, I lifted my head and saw written on the ‘Arsh ‘La ilaaha illallah Muhammadur rasoolullah’. So, I got to know that you would only join your name with him who is most beloved to you. Allah said: O Adam! You have spoken the truth. Indeed Muhammad is more beloved to me than anything and when you asked me for his sake, I pardoned you. If Muhammad was not in existence, I would not have created you” (Also from Imam Subki in Shifa as-Siqam and Shihab in Naseem)

Please read about Ibn Taymiyyah and his discussion of the hadith of Adam's forgiveness in Majma` Fataawa Ibn Taymiyyah.

Hadith 2: Hakim in Mustadrak and Abu as-Shaykh in Tabaqaat al-Isfahani’ in a report from Sayyiduna Abdullah ibn Abbas (radiyallahu ta'ala anhuma) that:

“Allah revealed to Prophet ‘Isa ‘alaihis salam that: O ‘Isa! Have faith (imaan) in Muhammad and order your ummah to do the same. If Muhammad was not in existence, I would not have created Adam nor would I have made heaven or hell”. (Also from Shaykh Taqi ad-Din Subki in Shifa as-Siqam and Shaykh al-Islam al-Bulqini in his Fatawa and ibn Hajar in Afdal al-Qur’an).

Hadith 3: Dailami in Musnad al-Firdaus reports from Sayyiduna Abdullah ibn Abbas (radiyallahu ta'ala anhuma) that:

“the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) said that Jibra’il came to me and said that Allah says: If you were not created, I would not have made the heaven or hell”.

Hadith 4: ibn Asakir reports from Salman al-Farsi (radiyallahu ta'ala anhu) that:

“Jibra’il came to the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) and said that Allah says: I have not created anyone who is more honoured to me that you. I have created the world and all that is therein so that they may know the rank that you possess. I would not have created the world if I had not created you”.

Imam Shihab ad-Din ibn Hajar ‘Asqalani says:

“These reports say that if Muhammad (sallallahu 'alaihi wasallam) were not created then Allah would not have made the skies nor the Earth, neither heaven nor hell, neither the sun nor the moon”.

There are many other ahadith on this subject which have been collected by Imam Ahmad Rida Khan Barelwi in his brilliant ‘Tajalli al-yaqeen baana nabiyyina sayyidil mursaleen’ and it is without doubt that the righteous ‘ulama have addressed the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) as the “Reason for the creation of Adam and the universe”. If the sayings of our ‘ulama are collected, this would cover a voluminous book. A few are noted below.

Hadith 6: see the discussion of the very important hadith of Jaabir.

Excerpt 1: Imam Saif ad-Din Abu Ja’far bin Umar al-Humairi al-Hanafi in his ‘al-Durr al-tanzeem fee mawlid al-nabi al-kareem’ says:

“When Allah made Adam He revealed to Adam to ask Him: O Allah! Why have you made my kuniyah as ‘Abu Muhammad’? Allah said: O Adam! Lift you head. He lifted his head and saw the noor (light) of the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) on the ‘Arsh. Adam asked: O Allah! Whose is this noor? Allah said: It is a Prophet from your progeny. His name is Ahmad in the skies and Muhammad on the Earth. If he were not created, I would not have created you or the skies and the Earth”.

Excerpt 2: Sayyidi Abul Husain Hamdooni Shadhili writes in his Qasida Daaliyah that:

“The dear Prophet (sallallahu 'alaihi wasallam) is the essence of the universe and is the reason for all creation. Had he not have been, then nothing would have come into existence”.

Excerpt 3: Imam Sharaf ad-Din Abu Abdullah Muhammad Busiri writes in his Qasida Burda that:

“If it was not for the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) then the world would not exist”.

Excerpt 4: Imam Shaykh Ibrahim Baijuri writes in the commentary of Imam Busiri’s poem:

“If the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) had remained non-existent, then the universe would not have come to be. Allah said to Adam: If Muhammad had not existed, I would not have created you. Adam is the father of all men and whatever is in the Earth has been created for man. So when Adam was created due to the existence of the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam), then it is obvious that the whole world was created due to him. Hence, the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) is the cause and the reason for all existence.

Excerpt 5: ‘Allama Khalid Azhari, commenting on the Burda, says:

“It is because of the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) that the world was bought from non-existence to existence”.

Excerpt 6: Imam Mulla Ali Qari writes:

“If it were not for the blessing and the generosity of the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam), then the whole world would not have existed and apart from Allah, nothing would exist.

Excerpt 7: ‘Allama Abul Ayash Abdul Ali Lakhnawi writes in his ‘Fawatih al-Rahmoot Sharh Musallam al-Thuboot’ that:

“If the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) were not in existence, then the blessings of Allah would not have blessed the creation”.

Only an ignoramus will argue against the authenticity of the subject matter, that is, that the Prophet of Allah (sallallahu 'alaihi wasallam) is the reason for creation. It is due to him that Allah, the Almighty, created the Universe.

(This answer has been translated by Muhammad Aqdas from Mufti Zafar ad-Din al-Bihari al-Ridawi’s (rahimahullah) collection of fatawa ‘Naafi’il bashar fee fatawa zafar’. It is a question asked by Shaykh Rahim Bakhsh of Rawalpindi received by Mufti Zafar ad-Din on 15th Rajab, 1324 AH. Mufti Zafar ad-Din was one of the foremost students of Imam Ahmad Rida Khan Barelwi (rahimahullah). [source at www.aqdas.co.uk] and slightly modified by ASFA staff


Blog EntryThe Description of Love by RumiMar 28, '08 7:49 AM
for everyone

A true lover is proved such by his pain of heart;

No sickness is there like sickness of heart.

The lover's ailment is different from all ailments;

Love is the astrolobe of God's mysteries.

A lover may hanker after this love or that love,

But at last he is drawn to the King of Love,

However much we describe and explain love,

When we fall in love we are ashamed of our words,

Explanation by the tongue makes most things clear,

But love unexplained is clearer.

When the pen hasted to write,

On reaching the subject of love it split in twain.

When the discourse touched on the matter of love,

Pen was broken and paper torn,

In explaining it reason stick fast, as an ass in mire,

Naught but love itself can explain the love and lovers!

Non but sun can display the sun,

If you would see it displayed, turn not away from it.

Shadows, indeed, may indicate the sun's presence,

But only the sun display the light of life.

Shadows induce slumber, like evening talks,

But when the sun arises the "moon is split asunder".

In the world there is naught so wondrous as the sun,

But the sun of the soul sets not and has no yesterday....

(Rumi, The masnavi)


Blog EntryMemuji Rasulullah SAW adalah KemuliaanMar 21, '08 8:18 AM
for everyone
Memuji Rasulullah SAW adalah Kemuliaan

Berikut saya kutipkan, tulisan Habib Munzir Al-Musawa (dalam majelisrasulullah.org), tentang pujian kepada Rasulullah SAW adalah kemuliaan dan atsar Sahabat dan Salafus-Salih, Tentang tabaruk dan tentang Syafaat Nabi di Yamuil Akhir.

Ya Allah, izinkan kami  mendapat Syafaat beliau di Yaumil Akhir. Amien...

Berikut tulisannya: (Penomoran dan sub judul dari saya - abu-afi-n-dita)

1. Memuji Rasulullah SAW

Rasul saw bukan orang yg suka dipuji karena takabbur, namun Rasul saw suka dipuji oleh orang orang yg benar benar mencintai beliau saw, karena pujian itu datang dari cinta, dan cinta kepada Rasul saw adalah kesempurnaan Iman, beda dengan cinta pada kita satu sama lain mungkin bisa jadi merupakan hal yg melupakan kita dari Allah swt.

Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)

Berkata Aisyah ra : “Jangan kalian caci Hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw” (Shahih Bukhari Bab Adab hadits no.5684).

Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata: “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

Mengenai Larangan Rasul saw atas pujian sebagaimana Isa bin Maryam, tentunya jauh berbeda, dan orang wahabi itu buta, mereka tak bisa membedakan antara air putih dan arak, tentunya arak diharamkan, namun air putih adalah sunnah, mereka tak bisa membedakannya karena bodohnya, maka mereka mengharamkan semua orang untuk minum air, karena ditakutkan air itu adalah arak, padahal semua orang sangat bisa membedakan antara air dan arak, dari baunya, warnanya, rasanya, namun wahabi karena bodohnya maka mereka tak bisa membedakan mana pujian yg sunnah, mana pujian yg musyrik.

2. Tentang Tabaruk kepada Nabi SAW
Dan yg lebih bodoh lagi adalah yg mengikuti dan membenarkan ucapan mereka ini,
Kita lihat riwayat perbuatan pengagungan para sahabat terhadap Nabi saw dibawah ini, saya yakin jika ini anda perbuat maka si wahabi wahabi itu akan memfitnah anda musyrik, padahal ini perbuatan sahabat :

Para sahabat hampir berkelahi saat berdesakan berebutan air bekas wudhunya Rasulullah saw (Shahih Bukhari Hadits no.186),

Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila ada yg sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu air itu diminumkan pada yg sakit (shahih Muslim hadits no.2069).

seorang sahabat meminta Rasul saw shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau saw itu mushollah dirumahnya, maka Rasul saw datang kerumah orang itu dan bertanya : “dimana tempat yg kau inginkan aku shalat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul saw hingga dijadikan musholla (Shahih Bukhari hadits no.1130)

Allah memuji Nabi saw dan Umar bin Khattab ra yg menjadikan Maqam Ibrahim as (bukan makamnya, tetapi tempat ibrahim as berdiri dan berdoa di depan ka’bah yg dinamakan Maqam Ibrahim as) sebagai tempat shalat (musholla), sebagaimana firman Nya : “Dan jadikanlah tempat berdoanya Ibrahim sebagai tempat shalat” (QS Al Imran 97), maka jelaslah bahwa Allah swt memuliakan tempat hamba hamba Nya berdoa, bahkan Rasul saw pun bertabarruk dengan tempat berdoanya Ibrahim as, dan Allah memuji perbuatan itu.

Diriwayatkan ketika Rasul saw baru saja mendapat hadiah selendang pakaian bagus dari seorang wanita tua, lalu datang pula orang lain yang segera memintanya selagi pakaian itu dipakai oleh Rasul saw, maka riuhlah para sahabat lainnya menegur si peminta, maka sahabat itu berkata : “aku memintanya karena mengharapkan keberkahannya ketika dipakai oleh Nabi saw dan kuinginkan untuk kafanku nanti” (Shahih Bukhari hadits no.5689), demikian cintanya para sahabat pada Nabinya saw, sampai kain kafanpun mereka ingin yang bekas sentuhan tubuh Nabi Muhammad saw.

Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yg merobek perutnya dengan luka yg sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar ra), "Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra", maka ketika Ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra : "Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (dimakamkan disamping makam Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.1328). Dihadapan Umar bin Khattab ra Kuburan Nabi saw mempunyai arti yg sangat Agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan Nabi saw, bahkan ia berkata : "Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu”

Demikian pula Abubakar shiddiq ra, yang saat Rasul saw wafat maka ia membuka kain penutup wajah Nabi saw lalu memeluknya dengan derai tangis seraya menciumi tubuh beliau saw dan berkata : “Demi ayahku, dan engkau dan ibuku wahai Rasulullah.., Tiada akan Allah jadikan dua kematian atasmu, maka kematian yang telah dituliskan Allah untukmu kini telah kau lewati”. (Shahih Bukhari hadits no.1184, 4187).

Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469).

Demikianlah keadaan para sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang Nabi saw.

Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits no.480).

Sebagaimana riwayat Sa’ib ra, : "aku diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai Rasulullah.., keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau saw" (Shahih Muslim hadits no.2345).

Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata: “Kalau aku memiliki sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari hadits no.168). demikianlah mulianya sehelai rambut Nabi saw dimata sahabat, lebih agung dari dunia dan segala isinya.

Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw dan mengusap2kannya ke wajah dan kedua tangan mereka, dan mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw lalu mengusapkan ke wajah dan tangan mereka” (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).

Diriwayatkan ketika Anas bin malik ra dalam detik detik sakratulmaut ia yg memang telah menyimpan sebuah botol berisi keringat Rasul saw dan beberapa helai rambut Rasul saw, maka ketika ia hampir wafat ia berwasiat agar botol itu disertakan bersamanya dalam kafan dan hanut nya (shahih Bukhari hadits no.5925)

Dan belasan riwayat lainnya dari riwayat shahih dan tsiqah bahwa para sahabat memuliakan Rasulullah saw, dengan syair, dengan perbuatan, pengorbanan, dan pengagungan.

Tampaknya kalau mereka ini hidup di zaman sekarang, tentulah para sahabat ini sudah dikatakan musyrik, tentu Abubakar sudah dikatakan musyrik karena menangisi dan memeluk tubuh Rasul saw dan berbicara pada jenazah beliau saw, demikian pula Umar ra yg saat wafat bukannya ingat syahadat malah ingat ingin dimakamkan disebelah kubur Nabi saw, demikian semua sahabat,
Inilah bodohnya wahabi,

dan seluruh Ulama dan Imam Seluruh madzhab tak satupun mengharamkan pujian pada Rasul saw, hanya wahabi saja yg menolak, memang mereka ini tak berhak berkumpul dengan para pecinta Rasul saw, karena mereka menganggap Rasul saw sama dengan manusia lainnya, padahal Allah swt telah berfirman : “Nabi (saw) mesti lebih diutamakan dari setiap mukmin dari diri mereka sendiri, dan istri istri beliau adalah ibunda kaum mukminin” (QS Al Ahzab 6).

Lalu bagaimana dengan riwayat berikut :
Berkata Anas ra : “Tak kutemukan sutra atau kain apapun yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah saw, dan tak kutemukan wewangian yang lebih wangi dari keringat dan tubuh Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.3368).

“Kami tak melihat suatu pemandangan yg lebih menakjubkan bagi kami selain Wajah Nabi saw”. (Shahih Bukhari hadits no.649 dan Muslim hadits no.419)

Dari Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah.., bila kami memandang wajahmu maka terangkatlah hati kami dalam puncak kekhusyu’an, bila kami berpisah maka kami teringat keduniawan, dan mencium istri kami dan bercanda dengan anak anak kami” (Musnad Ahmad Juz 2 hal.304, hadits no.8030 dan Tafsir Ibn katsir Juz 1 hal.407 dan Juz 4 hal.50).

Diriwayatkan bahwa Abu Sa’id bin Ma’la ra sedang shalat dan ia mendengar panggilan Rasul saw memanggilnya, maka Abu Sa’id meneruskan shalatnya lalu mendatangi Rasul saw dan berkata : Aku tadi sedang shalat Wahai Rasulullah.., maka Rasul saw bersabda : “Apa yang menghalangimu dari mendatangi panggilanku?, bukankah Allah telah berfirman “WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DATANGILAH PANGGILAN ALLAH DAN RASUL NYA BILA IA MEMANGGIL KALIAN”.(Al Anfal 24). (Shahih Bukhari hadits no.4204, 4370, 4426, 4720).

Dan bahwa mendatangi panggilan Rasul saw ketika sedang shalat tak membatalkan shalat, dan mendatangi panggilan beliau lebih mesti didahulukan dari meneruskan shalat, karena panggilan beliau adalah Panggilan Allah swt, perintah beliau saw adalah perintah Allah swt, dan ucapan beliau saw adalah wahyu Allah swt...

ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yg mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yg mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

3. Tentang Syafaat di Yaumil Akhir
Mengenai ucapan :

يا أكرم الخلق ما لي من ألوذ به ***** سواك عند حلول الحادث العمم

Wahai insan yang paling mulia (Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam). Tiada seseorang yang dapat kujadikan perlindungan selain dirimu, ketika datang musibah yang besar.


Bait ini adalah berdasarkan :
“Dan beliau saw itu adalah manusia yg terindah wajahnya, dan terindah akhlaknya” (Shahih Bukhari hadits no.3356) .

“Dan beliau saw itu adalah manusia yg termulia dan manusia yg paling dermawan, dan manusia yang paling berani” saw (Shahih Bukhari hadits no.5686).

sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber istighatsah kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405), juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits no.194, shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435),

dan banyak lagi hadist2 shahih yg rasul saw menunjukkan ummat manusia memanggil manggil para nabi dan rasul untuk minta pertolongan, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst...dan Adam as berkata : “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil manggil Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yg menceritakan ini, dan riwayatnya shahih,

mengenai mereka yg mengingkari ini dengan dalil Alqur’an, adalah karena kebodohan mereka terhadap Alqur’an, sebagaimana berkata Imam Ibn Katsir pada tafsirnya :

يقول تعالى: { يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا }
كقوله: { مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ } [البقرة: 255] ،
وقال: { وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى } [الأنبياء: 28]
وقال: { وَلا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ } [سبأ: 23] ،
وقال: { يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلائِكَةُ صَفًّا لا يَتَكَلَّمُونَ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا } [النبأ: 38] .
وفي الصحيحين، من غير وجه، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو سيد ولد آدم، وأكرم الخلائق على الله عز وجل أنه قال: "آتي تحت العرش، وأخر لله ساجدًا، ويَفْتَح عليّ بمحامد لا أحصيها الآن، فيدعني ما شاء الله أن يدعني، ثم يقول: يا محمد، ارفع رأسك، وقل يسمع واشفع تشفع" . قال: "فيحد لي حدًّا، فأدخلهم الجنة، ثم أعود"، فذكر أربع مرات، صلوات الله وسلامه عليه


Firman Allah Ta’ala : Hari dimana tak bermanfaat lagi pertolongan terkecuali yg telah diizinkan Allah Arrahman dan diridhoi ucapannya (QS Thahaa 109)
Juga seperti firman Nya : Siapakah yg bisa member pertolongan dihadapan Nya kecuali dengan izin Nya? (Al Baqarah 255)
Dan firman Nya : Tiadalah mereka mampu memberi pertolongan kecuali orang orang yg diridhoi (Al Anbiya 28)
Dan firman Nya : dan tiadalah bermanfaat pertolongan disisi Nya kecuali yg diizinkan baginya” (Saba 23)
Hari berdirinya Jibril dan para malaikat dalam barisan barisan, mereka tak berbicara terkecuali yg diizinkan Allah dan ia berkata dengan ucapan mulia (Annaba 38).
Dan pada Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dari banyak riwayat, dari Rasul saw : “Dan beliau lah pemimpin seluruh anak Adam, dan semulia mulia makhluk Allah Azza wa Jalla, dan beliau berkata : Aku datang kebawah Arsy, maka aku menyungkur diri bersujud pada Allah, maka diajarkan padaku puji pujian yg tak jelas padaku skrng, maka Dias wt membiarkanku dalam waktu yg dikehendaki Nya, lalu Dia swt berkata : “Wahai Muhammad, bangunlah dari sujudmu, ucapkanlah keinginanmu niscaya akan kudengar (kukabulkan), dan berilah syafaat agar mereka member syafaat”, lalu Allah swt membatasiku dan aku memasukkan mereka ke surga, lalu aku kembali pada Nya swt, maka demikian hingga empat kali, semoga shalawat Allah dan salam Nya, atas beliau”.

Selesai Ucapan Imam Ibn Katsir. (Tafsir Imam Ibn Katsir Juz 5 hal 317, Thaha 109)

Maka jelaslah sudah bahwa Allah swt memang pemilik segala pertolongan, namun Allah swt memberikan izin pada hamba hamba Nya yg dicintai Nya dan dimuliakan Nya, dan pimpinan semua hamba yg dimuliakan Nya adalah Sayyidina Muhammad saw.

Allahumma Shali 'Alaa Sayidina wa Syafi'ina wa Maulana Muhamad wa 'alaa aalihi wa salim.


Blog EntryMaulid Addhiya 'Ullami dan terjemahannya (1)Mar 18, '08 5:05 PM
for everyone
بسم الله الر حمن الر حيم

 

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد     حَبِيبِكَ الشَّافِعِ   الْمُشَفَّع                             

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد       أَ عْلَى  الْوَ رَ ي رُ تْبَةً   وَ أَرْ فَع

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد       أَسْمَى  الْبَرَ ايَا  جَاهًا وَ أَوْ سَع

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      وَ اسْلُكْ   بِنَا رَ بِّ   خَيْرَ  مَهْيَع

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      وَ عَافِنَا  وَ اشْفِ    كُلَّ   مُوْ جَع

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      وَ أَصْلِحِ   الْقَلْبَ  وَ اعْفُ  وَ نْفَع

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      وَا كْفِ الْمُعَادِي وَ اصْرِفْهُ وَرْدَ ع

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      نَحُلُّ   فِي  حِصْنِكَ   الْمُمَنَّع

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      رَ بِّ  ارْ ضَ عَنَّا رِ ضَاكَ اْلأَ رْ فَع

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      وَ اجْعَلْ لَنَا فِي الْجِنَانِ  مَجْمَع

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      رَ افِقْ   بِنَا خَيْرَ  خَلْقِكَ  اجْمَع

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      يَا رَ بِّ    صَلِّ  عَلَيْهِ   وَ سَلِّمْ

 

اللهـم صـل وسـلم وبارك علـيه وعلـى آلـه

 

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

 

Ya Allah limpahkanlah shalawat atas Muhammad,

Kekasih- Mu pemilik syafa’at yang dilimpahi syafa’at- Mu.

Semulia-mulia ciptaan, dalam keagungan dan derajatnya.

Makhluk yang termulia kedudukannya, melebihi segenap ciptaan.

Jalankanlah kami Wahai Tuhan ke jalan yang paling benar (jalan nabi- Mu).

Sembuhkanlah kami dari segala Keluhan penyakit,

Perbaikilah Hati dan ma’afkanlah, dan berilah kami (segala yang) manfa’at,

Bentengilah dari yang sedang memusuhi kami dan hindarkanlah kami dari musuh yang akan datang kepada kami,

Kami berlindung di dalam Benteng- Mu Yang Melindungi dari segala gangguan,

Ya Allah Ridhoilah kami dengan Keridhoan- Mu Yang Agung,

Jadikanlah kami berkompul dengan Nabi- Mu di Surga,

Jadikanlah kami selalu berdampingan dengan Sebaik-baik Ciptaan- Mu,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat atasnya serta Salam Sejahtera,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya,


Blog EntryAyat-ayat Cinta (1)Mar 17, '08 6:02 AM
for everyone

"Akan kami tunjukkan ayat-ayat Kami dari segenap ufuq dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwasanya Dia (al-Quran) itu Benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (QS. Al- Fushshilat:53)

Mohon maaf, jika Anda mengharapkan tulisan saya tentang novel dan film fenomenal karya Habiburahman. Namun isinya berimpitan karena berkaitan dengan cinta... Memang cinta adalah tema abadi. Ia adalah  misteri sepanjang zaman, kepada siapa pun cinta itu...

Apakah cinta itu? Maulana Rumi dalam Masnawi, membuat ungkapan yang indah tentang makna cinta.

Berapa pun banyak kita menggambarkan dan menjelaskan cinta,
Ketika kita jatuh cinta kita kehilangan kata-kata,

Penjelasan dengan lidah membuat kebanyakan masalah menjadi jelas,
Namun cinta yang tak terjelaskan justru menjadi lebih jelas.
ketika pena harus menulis,
ketika mencapai pembahasan cinta, dia terbelah menjadi dua,
Pena patah dan kertas pun robek.
Dalam menjelaskan cinta akal pun kelu, seperti keledai dalam lumpur,
Tidak ada kecuali cinta sendiri yang bisa menjelaskan cinta dan para pecinta..

Intinya, cinta tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata dan pena. Hanya dengan bercinta kita memahami cinta. Jadi, cinta tidak perlu didefinisikan, karena ia adalah kenyataan, karena ia adalah jalan..... Ia hanya bisa dipahami dengan menerima kenyataan itu. Ia hanya bisa dimengerti dengan menempuh jalan cinta...

Nah, kalau ayat itu gampang definisinya. Ayat artinya kira-kira adalah tanda, alamat, petunjuk, bukti. Jadi ayat-ayat cinta adalah tanda-tanda atau bukti Cinta...

Ayat-ayat Cinta Ilahi

Tulisan ini memang ingin sekedar 'menyentuh'  setetes makna dari ayat-ayat cinta Ilahi. Allah adalah Sang Maha Cinta. Allah memberi sebagian dari Nama-nama Indahnya berkaitan dengan cinta. Karena Dia adalah Ar-Rahman (Yang Maha Kasih), Ar-Rahim (Yang Maha Sayang), Al-Wadud (Yang Maha Mencinta).

Dan ayat-ayat cinta Allah itu memenuhi segenap jagad raya bahkan bersemayan di dalam diri kita sendiri, sebagaimana dalam ayat Al-Fushilat di atas. Jika kita menghadap kemana pun, sebenarnya kita menghadap tanda-tanda kekuasan, kebesaran, keindahan dan ayat-ayat cinta Allah kepada seluruh hambanya. "Kemana pun engkau menghadap di situlah Wajah Allah".

Kita bisa melihat ayat-ayat cinta Allah kepada kita, dari bintang-bintang yang menyinari malam, pada matahari yang menyinari dan menghidupkan bumi, dari bumi yang menumbuhkan segala yang baik, walau kita memberinya yang buruk... Dari air yang mengalir, menghidupkan bumi, mengentaskan dahaga, membersihkan kotoran, menyegarkan jiwa, walau kita memberinya sampah... Dari udara yang menyegarkan nafas.. Dari pepohonan, yang memberikan buah dan daun... Dari burung-burung bernyanyian indah, menyambut fajar.... Dari sinar kasih orang tua kepada anaknya.... Dari cacing dan bakteri yang menyuburkan tanah.... Dari manapun, kita akan menemukan ayat-ayat Cinta-Nya kepada kita...

Bahkan jika enggan membuka mata, karena ayat-ayat Cinta-Nya begitu terang menyilaukan. Kita dapati ayat-ayat Cinta-Nya merasuk ke dalam setiap helaan napas kita, pada setiap detak jantung. Bahkan jika, napas dan jantung berhenti atau kita abaikan. Ruh, akal dan hati kita adalah ayat-ayat-Cinta- Nya jua yang terang benderang...

Duh Gusti, Ayat-ayat Cinta-Mu sungguh jelas tak terperi. 
Aku tidak bisa berpaling..

Itu adalah ayat-ayat Cinta-Nya dalam bentuk perbuatan, yang sebagian ulama menyebutnya sebagai ayat kauniyah. Ayat-ayat penciptaan.

Di samping itu Allah Sang Maha Pencinta, juga memberi kita dari zaman ayahanda Adam AS, hingga Nabi Tercinta Muhammad SAW ayat-ayat cinta verbal, dalan bentuk ayat-ayat suci yang indah. Ada 6236 ayat-ayat cinta-Nya kepada kita dalam Al-Quran, dan puluhan ribu ayat-ayat cinta-Nya melalui hadis-hadis Nabi SAW. Karena Nabi Tercinta Muhammad SAW adalah juga ayat Cinta-Nya kepada alam semesta. Beliau adalah rahmatan lil alamin, raufur rahim, nur, sirajam munira..

Jika ayat-ayat cinta bertaburan tanpa bisa kuhitung, lalu di mana ayat-ayat cintaku pada-Mu...?

Duh, Gusti.... Aku hanya bisa memohon agar kau beri rasa Cintaku kepada-Mu memenuhi relung kalbu, karena Engkaulah sumber segala Cinta.

Ya, Allah, Aku mohon cinta kepada-Mu (di dalam hatiku), dan cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu, dan perbuatan yang mengantarkan kepada cinta kepada-Mu. Ya, Allah, jadikan cintaku pada-Mu, lebih aku cintai dari cinta kepada diriku sendiri , keluargaku, (yang sering menutup cintaku pada-Mu) dan air yang jernih (di kala kekeringan).

Amien... Ya Waduud....


Blog EntryMencintai RasulullahMar 15, '08 6:01 AM
for everyone
Mencintai Rasulullah
dari http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=326973&kat_id=3

''Hati Muslimin penuh dengan cinta Muhammad. Seluruh kemuliaan kita adalah dari Muhammad.''

Iqbal, dalam syairnya di buku Asrar-i-Khudi, telah menunjukkan intensitas kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Di masa-masa terakhir hidupnya, jika nama Nabi disebut-sebut atau jika seseorang berbincang tentang kota yang penuh berkah (Makkah dan Madinah), ia tak dapat menguasai cucuran air matanya.

Sejarah Islam banyak mencatat teladan yang tiada tara tentang cinta dan kepatuhan luar biasa kaum Muslimin kepada Nabi SAW. Satu di antara mereka adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Ketika Nabi memerintahkan kaum Muslimin pergi ke Tabuk (sekitar 600 km dari Madinah), Abu Dzar turut serta.

Di tengah perjalanan, ia tercecer dari rombongan. Dalam suhu terik menyengat, ia meneruskan perjalanan di gurun panas, serasa akan mati kehausan. Kemudian, ia menemukan tempat teduh di antara batu-batu. Di tempat ini, ia menemukan sedikit air hujan yang menggenang. Ia mengisi air dalam kantong kulit, memikulnya, dan bergegas menyusul kaum Muslimin yang telah jauh.

Rombongan Nabi yang kemudian menyaksikan kehadiran Abu Dzar bergegas menolong. Tenaga yang terkuras dan dahaga amat sangat membuatnya lemah. Nabi menyuruh seseorang memberikan minum secepatnya kepada Abu Dzar. Tapi, Abu Dzar berkata, ia mempunyai air. ''Wahai Abu Dzar, engkau mempunyai air, tapi hampir mati kehausan,'' kata Nabi. Ia menjawab, ''Memang ya Rasulullah. Ketika saya mencicipi air ini, saya tidak mau meminumnya sebelum engkau lebih dahulu.''

Dalam sejarah Islam, kita dapati kisah tentang kecintaan umatnya kepada beliau. Nabi sendiri dalam mengasihi manusia tidak hanya dalam pengertian mencoba mengurusi orang-orang miskin dan menolong para yatim. Beliau sangat dermawan kepada tiap orang. Kepada siapa pun yang memerlukan pertolongan, beliau mengulurkan tangannya lebar-lebar.

Pernah seorang datang kepadanya dan berkata, ''Berilah aku sesuatu. Aku tidak punya apa-apa untuk kumakan.'' Melihat orang itu sebagai pemuda yang sehat, Nabi kemudian memberikan sebuah kapak dan tali seraya berkata, ''Pergilah dan tebanglah kayu. Engkau bisa mencari nafkah dengan ini.''

Demikianlah kasih sayangnya sangat praktis sehingga memungkinkan orang hidup di dunia ini bukan hanya dari hasil sedekah. Nabi akhirnya berhasil mendorong anak muda tadi menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Sejarah Islam juga mencatat sejumlah budak dan orang miskin berhasil menjadi Muslim yang tangguh.

(Alwi Shahab )

Blog EntryCinta (Mahabah) Rabiah Adawiyah....Mar 6, '08 8:42 AM
for everyone

(Copy paste dari blog Teh nizma, dengan izin...)

Ridha:

Doa Rabi'ah El Adawiyah

 

Tuhan apapun karuniaMu untukku didunia,

 hibahkan padamu  suhu zuhud

 

Dan apapun karuniaMu untukku di akhirat

Persembahkan pada sahabah, sahabatMU

oh bagiku oh cukuplah Engkau

oh bagiku oh cukuplah Engkau

 

 

 

 

Bila sujudku karen takut padaMU

Bakar aku dengan apinya

Bila sujudku padamu karena damba surga

tutuplah surga itu.. ohhh

 

Namun bila sujudku demi Kau semata

Jangan palingkan wajahMu

aku rindu menatap keindahanaMu

aku rindu menatap keindahanaMu

aku rindu menatap keindahanaMu

 

Dialunkan oleh: Rafly  (Aceh)

 

---

 

Saya bersama teman-teman di Aceh tengah menulusuri perjalanan ke Aceh Utara pada akahir Jan lalu. Sepanjang jalan ditembangkan lagu dan nasyid oleh Rafly, penyanyi Aceh itu. Diantara lagunya ko ada yang menyayt hati, baik gesekan cello, biola, lirik dan  iramanya yang lirih itu. Saya bertanya sama adikku Haris 'lagu apa ini Haris.. ko begitu melankolisnya? ' Oh itu doa-doanya  Rabiah teh..' subhanallah.

 

Terus saya ulangi lagu tsb dan dan cermati lagi  liriknya:  'Bila sujudku karena takut nereka, bakar aku dengan apinya..' ihhh itu membuat kelopak mata saya memanas, menyerap keqalbu, tak tertahankan air matapun melorot jatuh. Sampai sekarang.

 

'Ko begitu pasrah dan ridhonya...Rabiah yang begitu kesehariannya penuh menghambakan dirinya melulu untuk Allah...bagaimana dengan kita?

 

Nasyid ini terus terbawa pulang hingga ke ibukota, hingg kesini ke uk

dan mungkin saya masih berperasaan melankolis, hinga belum  menyapa teman dan sahabat semua di multiply.

 

Saya upayakan untuk mendaptkan lagu nya untuk bisa saya upload, insya Allah

 

Allah 'Alam

 

teteh


Blog EntryAGAMA ADALAH CINTAFeb 25, '08 9:43 AM
for everyone

Puncak tertinggi dalam penghayatan agama bagi seorang muslim adalah cinta

Iman yang teguh kepada Allah dan Rasul dengan sendirinya akan mengantarkan kepada cinta yang sejati. "Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kamu "

Dalam cinta kepada Allah dengan sendirinya timbul pula cinta kepada Rasul. Sebab percaya bahwa Rasul itu utusan Allah untuk menyampaikan wahyu Ilahi kepada manusia dengan sendirinya menumbuhkan cinta kepada Rasul, tidak boleh tidak

Kita mencintai rasul bukan untuk disembah, tetapi untuk dijadikan teladan hidup. Bukan utnuk disamakan dengan Tuhan, melainkan untuk dijadikan orang yang dipercayai menjadi penunjuk jalan kehidupan ini, agar selamat dunia dan akhirat. Dasar dari cinta ini iaalah cita-cita yang tinggi untuk menempuh hidup yang lebih sempurna, lebih mendekati Nabi saw.

Seorang sahabat dan pembantu Nabi, Tsauban, boleh dikata siang malam dia tidak pernah menjauhi Nabi. Hanya ketika Nabi pulang ke rumah istri beliau sajalah, Tsauban terpisah dari beliau. Tetapi pada suatu hari Tsauban datang dengan muka muram, terbayang kedukaan yang tengah meimpa hatinya.

"Engkau mengapa Tsauban ? Kelihatan wajahmu berubah? Engkau muram saja?

Tsauban menjawab: "Wajahku berubah bukan karena sakit, ya Rasulullah! Cuma pikiranku jadi muram memikirkan keadaan ini. Jika aku terpisah agak lama, terasa sepilah hidupku. Baru kesepian itu hilang bila aku ketemu kembali denganmu. Maka aku teringat akan hari akhirat kelak. Cemas aku memikirkan, apakah di akhirat aku masih bertemu dengan engkau ? Karena jika engkau masuk surga niscaya tempat buat engkau adalah tempat yang tertinggi bersama-sama Nabi-nabi dan rasul-rasul. Jika aku diizinkan masuk surga, tentu tempatku jauh di bawah tempat yang disediakan untukmu. Tentu di akhirat nanti kita tidak bertemu lagi... "

Ibu kaum beriman Asiyah ra menceritakan, seorang sahabat Nabi datang kepada beliau lalu berkata:

"Ya Rasulullah! Engkau lebih aku cintai daripada diriku, engkau lebih aku cintai dari kaum kelurgaku, engkau lebih aku cintai daripada anak kandungku. tetapi sedang aku duduk termenung seorang diri dalam rumahku, teringat aku akan engkau. Aku tidak tahan, lalu aku segera datang melihat wajah engkau. Tetapi bila ingat lagi suatu saat yang mesti datang, yaitu jika aku ingat aku akan mati dan engkau akan mati. Aku tahu bahwa jika masuk ke surga engkau akan didudukkan di tempat yang tinggi bersama Nabi-nabi. Tetapi aku, jika Tuhan memasukkan aku pula ke dalam sorga aku takut di waktu itu aku tidak akan melihat engkau lagi. Karena tempatku tentu jauh dibawah tempatmu...."

Kata ahli tafsir, kejadian inilah yang menjadi sebab turun ayat :

Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin , orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)

Seorang sahabat Syafwan bin Qudamah berkata:

Aku berhijrah bersama Nabi saw ke Madinah. Lalu aku datangi beliau dan aku berkata kepada beliau. "Ulurkan tanganmu ya Rasul, aku hendak membaiat engkau. Lalau beliau mengulurkan tangan. Aku pun berkata, " Ya Rasulallah, aku sangat mencintaimu"

Lalu Rasul menjawab, "Al-mar-u ma'a man ahabba "(seseorang akan bersama dengan yang dicintainya). Artinya sejak dunia sampai akhirat Syafwan akan beserta Nabi sebab mencintai Nabi.

Ketika bilal bin Rabbah, akan wafat, istrinya menangis dan berkata, " Wahai sedih hatiku.

Lalu dengan tersenyum Bilal berkata, "Wahai bahagianya hatiku! Besok aku akan berkumpul dengan orang-orang yang aku cintai, Muhammad dan sahabat-sahabatnya"

Menurut Riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra, Nbi bersabda,
Setengah dari umatku yang sangat cinta kepadaku adalah orang-orang yang datang kemudian sepeninggalku. Mereka ingin sekali hendak melihat aku, dengan keluarga dan harta bendanya sekalian"

Dengan hadis ini jelas cinta kepada Nabi itu tidak akan terputus di hati orang-orang beriman hingga akhir zaman. Cinta kepada Allah dalam rangka iman kepada Allah masih akan bernyala selama Al-Quran masih ada. Pembuktian itu adalah dengan berjihad menegakkan agamanya, berjuang mengokohkan hukumnya, melakukan dakwah, walau orang-orang musyrik tidak menyukainya.

(dikutip dari Renungan Tasauf, HAMKA)


EventUlang tahun Umi AfkarSep 21, '07 5:45 AM
for everyone
Start:     Sep 21, '07 06:00a
Location:     Home...
Hari ini ulang tahun istri saya...
Saya bingung mau ngasih hadiah apa yang layak...

Tapi saya sangat bersyukur kepada Allah Yang Maha Pecinta (Al-Wadud) telah menganugerahi istri yang begitu baik, kepada saya dan anak2...

Rabbana waj'alna muslimaini laka,
wa min duriyatina umatan muslimatan laka,
wa ariina manasikaana watub 'alaina,
innaka laa tuhliful mi'ad....

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help