Menyusuri Kearifan Mata Air

Abi's posts with tag: ramadhan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.

Shalat Lail**

(**   Disebut juga : Tahajjud, Witir, Qiyamullail, Qiyamu Ramadlan)


Hendaklah engkau membiasakan shalat malam (8) sesudah shalat Isyak hingga menjelang terbit fajar (9), baik di dalam maupun di luar bulan Ramadlan(10).


Engkau kerjakan sebelas rakaat(11), dua rakaat, dua rakaat(12) atau empat rakaat-empat rakaat(13) dengan membaca Fatihah dan surat dari al-Quran pada tiap-tiap rakaat (14). Kemudian engkau akhiri tiga rakaat (15), dengan membaca surat al'A'la sesudah Fatihah pada rakaat pertama, surat al-Kafirun pada rakaat kedua dan surat al-Ikhlas pada rakaat ketiga(16).


Kemudian setelah selesai bacalah sambil duduk:

Subh-nal malikil quddu-s (artinya : Maha Suci Tuhan yang merajai dan Yang Maha Suci) tiga kali dengan suara nyaring dan panjang pada bacaanmu yang ketiga, kemudian engkau teruskan membaca : Rabbil mala-ikati warru-h (17) (yang artinya : yang menguasai malaikat dan Jibril). Dan kerjakanlah sebelum itu dua rakaat singkat-singkat (18). Pada rakaat pertama sesudah takbiratul ikhram, engkau membaca : subha-na dzil mulki wal malaku-t wal 'izzati wal jabaru-t wal kibriya-i wal 'adlomah (19) (yang artinya : Maha Suci Tuhan Yang memiliki alam semesta, Yang Maha Besar dan Yang Maha Agung), lalu Fatihah.


Dan pada rakaat kedua engkau baca Fatihah saja (20). Engkau kerjakan shalat itu pada bagian pertama dari waktu malam atau pada waktu tengah malam atau pada bagian akhir (21), yang akhir malam itulah yang lebih utama jika engkau yakin akan dapat bangun pada saatnya (22).


Jika engkau hendak mengerjakan shalat dengan cara lain, maka yang sebelas rakaat itu boleh engkau kerjakan dua-dua rakaat, atau empat-empat rakaat seperti tersebut di atas, atau enam rakaat (23), atau delapan rakaat terus menerus dan hanya duduk pada penghabisannya lalu salam (24), lalu engkau kerjakan witir satu rakaat atau tiga rakaat (25), atau lima rakaat atau tujuh rakaat dengan duduk pada pengabisannya (26) atau tujuh rakaat dengan duduk tasyahud awwal pada rakaat ke enam dan diakhiri pada rakaat ketujuh dengan duduk untuk salam (27) atau sembilan rakaat dengan duduk tasyahud awwal pada rakaat ke delapan dan diakhiri pada rakaat ke sembilan dengan udduk untuk salam (28).


8.  HR. Bukhari-Mulim dari Abdullah bin Amr bin 'Ash

9.  HR. Bukhari-Muslim dari 'Aisyah, HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Daruquthni dari Kharijah bin Hudzafah

10. HR. Bukhari-Muslim dari 'Aisyah

11. idem no. 10

12. HR. Jama'ah dari Ibnu Umar, HR. Muslim dari Ibnu Abbas, HR. Muslim dari Zain bin Khalid al-Juhani

13. idem no. 10

14. HR. Abu Dawud dari 'Aisyah

15. idem no. 10

16. HR. Nasa'i, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ubay bin Ka'ab

17. HR. abu Dawud, Nasa'i dan Daruquthni dari Ubay bin Ka'ab

18. HR. Muslim dan ahmad dari abu Hurairah

19. HR. Thabrani dengan rawi yang terpercaya dari Hudzaifan bin Yaman

20. HR. Abu Dawud dari Kuraib bin 'Abbas

21. HR. Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah

22. HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Jabir

23. HR. Abu Dawud dari Abdullah bin Abu Qais

24. idem no. 23 dan HR. Muslim dari Abu Salamah, HR. Abu Dawud dari abu Qatadah

25. HR. Bukhari Muslim dari 'Aisyah, HR. Ahmad, Nasa'i, Baihaqi, dan Hakim dari 'Aisyah

26. HR. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah, HR. Nasa'i dan Ibnu Majah dari Ummu Salah, HR. Abu Dawud dari Ibnu Abbas

27. HR. Ahmad, Nasa'i dan Abu Dawud dari Sa'ad bin Hisyam

28. idem no. 14





sumber: http://www.geocities.com/tarjikh/tarjih_wiradesa/shalat_tathawwu.htm



Blog EntryShalat Tarawih 20 Rakaat (dari NU online)Sep 11, '07 6:27 AM
for everyone

Shalat Tarawih 20 Rakaat
10/09/2007

Shalat Tarawih bagi umat Islam Indonesia sudah tidak asing lagi. Hampir setiap muslim pernah menjalankannya. Pada awal Ramadhan, biasanya masjid atau mushala penuh dengan kaum muslimin dan muslimat yang menjalankan shalat jama’ah isya` sekaligus tarawih. Ada yang menjalankan 8 rakaat, dan ada yang 20 rakaat. Yang terakhir ini termasuk ciri orang NU (Nahdliyyin). Sedang shalat Witir yang diletakkan di akhir biasanya sarna-sarna 3 rakaat, orang NU maupun bukan. 20 rakaat itu serempak dilaksanakan dengan cara dua rakaat salam.

Begitu shalat sunnah rawatib setelah isya` (ba'diyah) usai dikerjakan, bilal mengumumkan tibanya shalat Tarawih dikerjakan, “Marilah shalat Tarawih berjama'ah!” Imam pun maju ke depan, dan sudah dapat ditebak surat yang dibaca setelah al-Fatihah ialah surat at-Takatsur.

Bacaan seperti ini sudah menjadi ciri khusus masjid-masjid atau mushala-mushala NU. Juga sudah dapat ditebak bahwa rakaat kedua setelah al-Fatihah tentu sura Al-Ikhlash. Setelah usai 2 rakaat, ada sela-sela lantunan shalawat yang diserukan “bilal” dan dijawab oleh segenap kaum muslimin.

Begitu shalat tarawih sampai rakaat kedua puluh, bacaan surat sesudah al-Fatihah tentu sudah sampai ke surat al-Lahab dan al-Ikhlash. Tinggal shalat witirnya yang biasa dilakukan 2 rakaat, dan yang kedua satu rakaat, imam biasanya memilih surat al-A’la dan al-Kafirun.

Para imam Tarawih NU umumnya memilih shalat yang tidak perlu bertele-tele. Sebab ada hadits berbunyi: "Di belakang Anda ada orang tua yang punya kepentingan..” Maka, 23 rakaat umumnya shalat Tarawih lengkap dengan Witirnya selesai dalam 45 menit.

Lain halnya shalat di Masjidil Haram, Makah. Di sana, 23 rakaat diselesaikan dalam waktu kira-kira 90-120 menit. Surat yang dibaca imam ialah ayat -ayat suci Al-Qur’an dari awal, terus berurutan menuju akhir Al-Qur’an. Setiap malam harus diselesaikan kira-kira 1 juz lebih, dengan diperkirakan pada tanggal 29 Ramadhan (dulu setiap tanggal 27 Ramadhan) sudah khatam. Pada malam ke 29 Ramadhan itulah ada tradisi khataman Al-Qur'an dalam shalat Tarawih di Masjidil Haram. Bahkan, di rakaat terakhir imam memanjatkan doa yang menurut ukuran orang Indonesia sangat panjang sebab doa itu bisa sampai 15 menit, doa yang langka dilakukan seorang kiai dengan waktu sepanjang itu, meski di luar shalat sekalipun.

Dan terpapar di kitab Shalat al-Tarawih fi Masjid al-Haram bahwa shalat Tarawih di Masjidil Haram sejak masa Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Usman, dan seterusnya sampai sekarang selalu dilakukan 20 rakaat dan 3 rakaat Witir.

Warga Nahdliyyin yang memilih Tarawih 20 rakaat ini berdasar pada beberapa dalil. Dalam Fiqh as-Sunnah Juz II, hlm 54 disebutkan bahwa mayoritas pakar hukum Islam sepakat dengan riwayat yang menyatakan bahwa kaum muslimin mengerjakan shalat pada zaman Umar, Utsman dan Ali sebanyak 20 rakaat.

Sahabat Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW shalat Tarawih di bulan Ramadhan sendirian sebanyak 20 Rakaat ditambah Witir. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Ibnu Hajar menyatakan bahwa Rasulullah shalat bersama kaum muslimin sebanyak 20 rakaat di malam Ramadhan. Ketiga tiba di malam ketiga, orang-orang berkumpul, namun rasulullah tidak keluar. Kemudian paginya beliau bersabda:

خَشِيْتُ أَنْ تَفَرَّضَ عَلَيْكُمْ فَلَا تُطِيْقُونَهَا

Aku takut kalau-kalau tarawih diwajibkan atas kalian, kalian tidak akan mampu melaksanakannya.”

Hadits ini disepakati kesahihannya dan tanpa mengesampingkan hadits lain yang diriwayatkan Aisyah yang tidak menyebutkan rakaatnya. (Dalam hamîsy Muhibah, Juz II, hlm.466-467)

KH MUnawwir Abdul Fattah
Pesantren Krapyak Yogyakarta

Source: http://www.nu.or.id

Contributed by Habib Munzir Almusawa   
Monday, 10 September 2007
Khutbah Rasululullah SAW
di Hari Terakhir Bulan Sya'ban


Wahai para manusia, telah menyelubungi kalian bulan yang agung, bulan yang dilimpahi Keberkahan yang padanya terdapat suatu malam yang lebih mulia dari seribu bulan, Allah jadikan puasa padanya kewajiban, dan shalat malamnya sunnah, Barangsiapa yang beramal (dibulan itu) dengan amal yang sunnah maka baginya pahala seakan melakukan ibadah yang fardhu, Barangsiapa mengamalkan amal yang fardhu maka seakan menjalankan 70 hal yang fardhu dibulan yang lain, Dia adalah (ramadhan) Bulan kesabaran, dan balasan sabar adalah sorga, Dialah bulan saling tolong menolong, Ditambahkan (oleh Allah) padanya rizki orang-orang mukmin. Barangsiapa yang menjamu buka orang yang berpuasa maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan pembebasan dari neraka, dan ia mendapat pahala puasa seperti orang itu tanpa dikurangkan..

Maka berkatalah sebagian dari mereka : ?tidak semua dari kami mempunyai rizki menjamu orang berbuka puasa?, maka Rasul saw menjawab : ?Allah tetap memberikan pahala itu walaupun hanya dengan sebutir korma atau segelas air. Dialah bulan yang pada awalnya Rahmat (Kasih Sayang Allah), dan pertengahannya Pengampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka, Barangsiapa yang memberi keringanan pada budaknya (atau pembantunya) maka diampuni dosa-dosanya dan baginya pembebasan dari neraka.

Maka perbanyaklah empat hal, yang dua hal adalah keridhoan Tuhanmu dan yang dua lainnya adalah tiada kemampuan kalian mendapatkannya (Allah yang memiliki), Dua hal yang pertama adalah syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan yang kedua adalah kalian beristighfar pada Nya, Dan dua hal yang bukan milik kalian adalah mintalah sorga dan berlindunglah padanya dari neraka, Barangsiapa yang memberi minum untuk berbuka orang yang berpuasa di bulan itu maka Allah akan memberinya minum dari telagaku hingga tak akan ia haus hingga ia sampai ke sorga? (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1887).

Source: http://www.majelisrasulullah.org


Sedikit tambahan, tulisan sebelumnya.

5. Melafalkan Niat di malam Ramadhan
Ini adalah khilafiah klasik di sekitar melafalkan niat.

Kontra:
Ini adalah bid'ah karena tidak ada contoh dari Rasulullah. Niat adalah menyengaja dan cukup di dalam hati.

Pro:
Niat adalah wajib bagi setiap amal. Memang prinsipnya adalah di dalam hati. Melafalkankan niat boleh saja dilakukan sekedar untuk membantu hati dalam berniat. Seperti kita berbuat apa saja, kita bisa berniat di dalam hati, bisa juga melafalkan untuk memantapkan. Namun tidak mengapa di dalam hati saja. Biasanya lafal niat adalah: perbuatan apa (puasa/shalat), hukumnya apa (sunah/fardu), maksud perbuatan itu apa (lillah). Seperti niat puasa: "Saya berniat puasa besok hari memenuhi kewajiban di bulan Ramadan tahun ini, karena Allah Ta'ala semata". Niat ini (atau semacamnya) wajib dilakukan baik dalam hati maupun dilafazkan. Tanpa itu amal kita tidak bernilai ibadah.

6. Membaca shalawat, menyebut nama Khulafaur-Rasyidin dan doa di sela-sela shalat Tarawih.

Kontra:
Ini adalah bid'ah, tidak pernah dicontohkan Nabi SAW.

Pro:
Membaca shalawat dan doa bisa dilakukan kapan saja, apalagi di dalam masjid dan sesudah shalat, tentu merupakan keutamaan. Kalau kita boleh diam atau bahkan santai-santai di sela-sela shalat Tarawih. Tentu lebih boleh lagi membaca shalawat dan doa. Ini adalah kebiasaan yang baik. Adapun menyebut nama khulafaur-Rasyidin di setiap 4 raka'at Tarawih adalah untuk memudahkan menghitung jumlah rakaat. Sehingga jamaah akan faham ketika diucapkan nama Umar bin Khatab ra: artinya sudah 8 rakaat, Ali bin Abi Talib KW: artinya sudah 16 rakaat.

Wallahu a'lam

Beberapa masalah yang sering menjadi khilafiah sekitar Bulan Ramadan

Dalam rangka kegembiraan menyambut bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, berikut saya sampaikan beberapa amal ibadah dan tradisi sekitar bulan Ramadan. Akan diuraikan secara ringkas inti pandangan dan landasan baik yang pro dan kontra, tanpa memberi penilaian pendapat masing-masing dengan tujuan untuk saling memahami dan menjaga silaturahmi.

1.     
Kebiasaan Ziarah kubur menyambut Ramadan.
Kontra:
Kebiasaan ini merupakan bid’ah dan tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Pro:
Kebiasaan ziarah kubur pada bulan apa pun adalah boleh, bahkan dianjurkan untuk mengingatkan kepada kematian, dan mendoakan arwah orang mati. Apalagi di bulan Sya’ban adalah bulan yang barakah, yang dianjurkan untuk berbuat kebaikan apa pun, termasuk ziarah kubur. Membiasakan/ mentradisikan/ mendawamkan perbuatan  baik pada hari dan bulan apa pun selama, tidak ada larangan, adalah boleh bahkan baik (mustahab).

2.      Perbedaan mengawali dan mengakhiri puasa.
Perbedaan mengawali dan mengakhiri memang sebaiknya tidak terjadi, namun demikian tetap ada kemungkinan terjadi karena ada perbedaan dalam metode penentuan awal bulan

a. Metode Ru'yat
Dalam metode ini penentuan awal bulan harus melalui ru'yatul hilal (penglihatan bulan baru) dengan mata/alat secara langsung (bilfi'li) pada tanggal 29 sore (menjelang maghrib). Jika ternyata hilal/bulan baru tersebut tidak berhasil dilihat, maka bulan tersebut disempurnakan (istikmal) menjadi tanggal 30. Artinya belum masuk bulan baru, meski hasil hisab menunjukkan hilal di atas ufuk/horison/ cakrawala ketika matahari tenggelam.
Dasar: HR Bukhari Muslim, tentang ru'yat menentukan awal puasa, jika tidak berhasil/tertutup, disempurnakan harinya menjadi 30.

b.     
Metode Hisab
Dalam metode ini penentuan awal bulan cukup menggunakan hasil perhitungan hisab/ilmu falak/astronomi. Jika hasil hisab menunjukkan hilal di atas ufuk ketika matahari tenggelam, maka hari berikutnya sudah masuk tanggal satu. Walaupun hasil ru'yat tidak berhasil melihat bulan baru tersebut.
Dasar : Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.
(QS. 55:5), dan lain-lain ayat ttg. fungsi bulan sebagai perhitungan
 
Selain perbedaan metode, ditambah lagi dengan perbedaan menyangkut pemberlakuan wilayah hukum. Mayoritas mengikuti pendapat bahwa wilayah hukum adalah berbeda tiap negeri/Negara. Namun ada yang berpendapat wilayah hukum berlaku seluruh dunia, biasanya patokannya adalah Arab Saudi, sehingga mereka mengikuti kalender Arab Saudi.

3.      Waktu Imsak
Dalam tradisi bangsa Indonesia waktu Imsak, batas untuk tidak makan adalah 10 menit sebelum shalat shubuh/fajar.
Kontra:
Sebagian (kecil) menganggap tradisi ini tidak benar, karena batas waktu tidak boleh makan dan minum adalah waktu shubuh/fajar.
Pro:
Ini adalah untuk kehati-hatian (ikhtiyat) serta memberi waktu yang cukup untuk mempersiapkan shalat shubuh, serta amalan yang baik dilakukan pada waktu sahur, seperti shalat sunah, dzikir dan baca quran.

4.      Tarawih 11 dan 23 rakaat
Pendapat tentang jumlah rakaat  Shalat tarawih  ada 2 yang terkenal, yaitu
yang berpendapat 20 rakaat dan 8 rakaat

Titik perbedaan sebenarnya ada 2:
a. Apakah tarawih itu sama dengan shalat tahajud/lail ?
b. Berapa jumlah rakaat shalat tarawih?
Berikut pendapat masing-masing dan argumen ringkasnya :

A. Pendapat 8 atau 11 rakaat
Pendapat ini misalnya terdapat dalam keputusan majelis tarjih Muhammadiyah, Syaikh Nasirudin Al-Bani, dll.

Intinya : Shalat tarawih = salat lail = salat tahajud = salat witr.
Jadi shalat tarawih = salat lail/salat tahajud yang dilakukan pada bulan ramadhan. Disebut juga salat witr karena jumlahnya ganjil, yaitu 1 - 11 rakaat. Dengan demikian hadis Bukhari dari Aisyah bahwa Rasulullah tidak pernah shalat malam baik di bulan ramadhan maupun di luar bulan ramadhan melebihi 11 rakaat, berarti shalat tarwih maksimum 11 rakaat.
Hal ini berarti juga, kalau sudah tarawih ya tidak perlu lagi salat tahajud. Karena dia sudah melakukannya. ..

B. Pendapat 20 atau 23 rakaat.
Pendapat ini adalah pendapat mayoritas 4 madzhab
Intinya : shalat tarawih adalah shalat tersendiri di bulan ramadhan, selain salat tahajud. Shalat tahajud memang maksimum 11 atau 8 rakaat (tanpa Witr).
Sedang shalat tarawih adalah shalat di luar tahajud, yang jumlahnya 20 rakaat... Jadi sesudah shalat tarawih sesudah Isya boleh shalat tahajud di malam hari.
Dasar shalat tarawih 20 rakaat :
Di masa Umar ibn al-Khattab (radiallahu anhu) orang biasa melakukan 20 rak'at dan witr

Wallahu a'lam

Blog EntryNasihat Rasulullah Menyambut Bulan Ramadhan Sep 10, '07 7:09 AM
for everyone
Nasihat Rasulullah Menyambut Bulan Ramadhan

Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci
agar Allah membimbingmu untuk melakukan syiyam dan membaca kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini.
Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari
kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fukara dan masakin.

Muliakanlah orang-orang tuamu, sayangilah yang muda, sambunglah tali
persudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal
kamu memandangnya, dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu
mendengarkannya.

Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.
Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosamu.
Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah
saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang
hamba-hambanya dengan penuh kasih;Dia menjawab mereka ketika mereka
menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena perbuatan-perbuatanmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah Ta'ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia
tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan
mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Rabb
Al-'Alamin.

Wahai manusia! Barangsiapa diantaramu memberi buka kepada orang-orang
Mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka disisi Allah nilainya sama dengan
membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.

(Sahabat-sahabat bertanya:" Ya Rasulullah!Tidaklah kami semua mampu
berbuat demikian." Rasulullah meneruskan:)

Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah
dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan ahlaknya di bulan ini ia akan
berhasil melewati sirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.
Barang siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan
kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan
pemeriksaan-Nya di hari Kiamat. Barang siapa menahan kejelekannya di bulan
ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya
pada hari ia berjumpa dengan-nya.

Barangsiapa menyambungkan tali persudaraan (silaturahmi) di bulan ini,
Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa
dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan
memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan ,
Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa
melakukan shalat fardhu baginya adalah ganjaran seperti melakukan 70
shalat fardhu dibulan yang lain

Barang siapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan
memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa
pada bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti
mengkhatam Al-Qur'an pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka
mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu.

Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan
pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia
tak lagi pernah menguasaimu

Amirul Mukminin k.w. berkata,:Aku berdiri dan berkata,"Ya Rasulullah! Apa
amal yang paling utama dibulan ini?”

 Jawab Nabi:Ya abal Hasan!

Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang
diharamkan Allah".

Di kutip dari:"Puasa Bersama Rasulullah", karangan Ibnu Muhammad, Pustaka
Al Bayan Mizan.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help